SURABAYA - TVRI Jawa Timur kembali menggelar program Diskusi Ruang Publik pada Rabu, 6 Mei 2026, dengan mengangkat tema “Rencana Pengembangan Pesantren di Jawa Timur”. Forum tersebut menjadi ruang dialog bersama antara pemerintah, akademisi, dan organisasi pesantren untuk membahas strategi penguatan pesantren agar mampu menjawab tantangan sosial, ekonomi, hingga perkembangan teknologi yang terus berubah. Diskusi ini juga menyoroti posisi strategis pesantren sebagai pusat pendidikan karakter, penguatan ekonomi umat, serta pengembangan sumber daya manusia yang adaptif dan berdaya saing. Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut yakni Dr. Agung Subagyo selaku Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Prof. Dr. H. Abdul Halim Soebahar selaku Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD), serta Mohammad Ghofirin selaku Sekretaris Jenderal JKSN.
Dalam pemaparannya, Dr. Agung Subagyo menjelaskan bahwa Jawa Timur memiliki lebih dari 7.000 pesantren yang tersebar di berbagai wilayah dan menjadi salah satu kekuatan penting dalam pembangunan masyarakat. Menurutnya, potensi besar tersebut perlu diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor agar pesantren tidak hanya berkembang sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga mampu menjadi pusat pemberdayaan masyarakat di berbagai bidang. Ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur memiliki perhatian besar terhadap pengembangan pesantren melalui berbagai program strategis yang terus diperkuat dari waktu ke waktu.
“Jatim ada lebih dari 7.000 pesantren sehingga banyak yang harus dikolaborasikan dalam pengembangan pesantren. Perhatian Ibu Gubernur Jawa Timur sangat luar biasa terutama dalam pemberdayaan pesantren,” ujar Dr. Agung Subagyo. Ia menambahkan bahwa pengembangan pesantren di Jawa Timur saat ini difokuskan pada sejumlah klaster penting seperti ekonomi, penguatan sumber daya manusia, digitalisasi, perlindungan perempuan dan anak, penanggulangan bencana, kesehatan, hingga lingkungan hidup. Menurutnya, penguatan pesantren harus dilakukan secara menyeluruh agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan tantangan zaman yang terus berkembang.
Sementara itu, Prof. Dr. H. Abdul Halim Soebahar menegaskan bahwa pesantren sejak dahulu telah memiliki fondasi kuat dalam membangun kemandirian umat. Ia menyebut terdapat lima prinsip utama yang menjadi ruh pesantren, yakni kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, ukhuwah, serta kebebasan yang bertanggung jawab. Nilai-nilai tersebut dinilai menjadi alasan mengapa pesantren mampu bertahan dan terus berkembang di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.
“Pesantren itu potensi dasarnya adalah kemandirian karena ada lima prinsip pesantren, yaitu kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, ukhuwah, dan bebas tetapi bertanggung jawab,” jelas Prof. Dr. H. Abdul Halim Soebahar. Ia juga mengingatkan bahwa pesantren harus tetap mampu mengikuti perkembangan zaman, kebijakan, dan ekspektasi masyarakat tanpa kehilangan identitas dasarnya. Menurutnya, penguatan karakter santri perlu berjalan beriringan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kemampuan adaptasi sosial agar pesantren tetap relevan di era modern.
Pada kesempatan yang sama, Mohammad Ghofirin menyampaikan bahwa pengembangan pesantren membutuhkan sinergi dan dukungan bersama dari berbagai pihak, termasuk organisasi masyarakat, pemerintah, dan komunitas pesantren itu sendiri. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci penting agar pesantren mampu berkembang lebih kuat dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat di Jawa Timur.
“JKSN siap mendukung Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Karena itu, JKSN akan terus mengawal serta mengambil peran sebagai penghubung antara pesantren dan pemerintah. Kami tidak ingin pesantren hanya bergantung dan meminta kepada pemerintah, tetapi bagaimana kemandirian itu justru lahir dan tumbuh dari pesantren itu sendiri,” ujar Mohammad Ghofirin dalam diskusi tersebut. Ia menilai langkah kolaboratif yang saat ini dibangun pemerintah dalam pengembangan pesantren merupakan upaya penting untuk memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan, pemberdayaan ekonomi, sekaligus penguatan sosial kemasyarakatan. Dengan sinergi yang terus diperkuat, pesantren diharapkan mampu menjadi lembaga yang semakin mandiri, adaptif, dan memiliki daya saing tinggi dalam menghadapi tantangan masa depan.

0 Komentar