Breaking News

Syukur yang Mengundang Nikmat, Pesan Sekjen JKSN untuk Umat


 Rasa syukur bukan sekadar ucapan di bibir, tetapi sikap hidup yang mampu menghadirkan keberkahan dan menambah nikmat dari Allah SWT. Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN), Mohamad Ghofirin, saat mengisi tausiyah dalam program Mutiara Hati di JTV. Dalam kesempatan tersebut, ia mengangkat tema “Syukur yang Mengundang Nikmat” sebagai pengingat penting bagi umat Islam untuk senantiasa memperkuat rasa terima kasih kepada Allah dalam setiap keadaan.

Dalam tausiyahnya, Mohamad Ghofirin menjelaskan bahwa syukur memiliki makna yang luas dan mendalam. Syukur tidak berhenti pada ucapan “alhamdulillah”, melainkan harus tercermin dalam hati, lisan, dan perbuatan. Hati yang bersyukur akan merasa cukup dan tenang, lisan yang bersyukur senantiasa memuji Allah, dan perbuatan yang bersyukur diwujudkan dengan menggunakan setiap nikmat untuk jalan kebaikan.

Ia menegaskan bahwa Allah telah menjanjikan tambahan nikmat bagi hamba-Nya yang bersyukur. Namun, tambahan nikmat itu tidak selalu berupa materi atau kekayaan. Kesehatan yang terjaga, keluarga yang harmonis, kemudahan dalam urusan, hingga hati yang lapang adalah bagian dari nikmat besar yang sering kali tidak disadari. Karena itu, ia mengajak umat untuk lebih peka melihat karunia Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam siaran tersebut, Sekjen JKSN juga mengingatkan bahwa syukur menjadi kunci hadirnya ketenangan di tengah berbagai ujian kehidupan. Orang yang bersyukur tidak mudah terjebak dalam keluhan dan perasaan kurang. Sebaliknya, ia mampu melihat setiap cobaan sebagai bentuk kasih sayang Allah yang sedang mendidik dan menguatkan dirinya. Dari sinilah lahir pribadi yang tangguh, sabar, dan optimis.

Lebih jauh, Mohamad Ghofirin menegaskan bahwa janji Allah tentang syukur bukan sekadar motivasi, melainkan ketetapan yang jelas dalam Al-Qur'an, sebagaimana termaktub dalam Surah Ibrahim ayat 7: “La’in syakartum la azîdannakum wa la’in kafartum inna ‘adzâbî la syadîd” yang artinya, “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” Menurutnya, ayat ini menjadi landasan kuat bahwa syukur adalah sebab bertambahnya nikmat, bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga kesehatan, ketenangan hati, keberkahan usia, dan kemudahan dalam urusan, sekaligus menjadi peringatan agar manusia tidak kufur nikmat dengan menyalahgunakan karunia Allah untuk hal-hal yang tidak diridhai-Nya.

Ia berpesan kepada seluruh keluarga besar Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) agar menjadikan syukur sebagai fondasi utama dalam berkhidmat dan berorganisasi. Menurutnya, organisasi yang dibangun di atas rasa syukur akan tumbuh lebih kokoh, solid, dan dipenuhi keberkahan. Dengan semangat syukur, setiap langkah perjuangan, pengabdian, dan pelayanan kepada umat akan terasa lebih ringan, sekaligus menghadirkan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat, bangsa, dan agama.

0 Komentar

© Copyright 2025 - JKSN | Jaringan Kyai Santri Nasional