SURABAYA - Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) menggelar rangkaian kegiatan Silaturahmi Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional pada 13–15 Februari 2026 di Surabaya. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus menyatukan visi dan langkah strategis para kyai dan santri dalam menjawab tantangan pembangunan nasional. Forum tersebut tidak hanya menjadi ajang temu silaturahmi, tetapi juga ruang diskusi, evaluasi program, serta perumusan arah gerak JKSN ke depan agar semakin relevan dengan kebutuhan umat dan bangsa.
Salah satu agenda utama dalam rangkaian kegiatan tersebut adalah seminar nasional yang menghadirkan Yandri Susanto selaku Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia. Seminar diselenggarakan pada Jumat, 13 Februari 2026, bertempat di Aula Kantor Pengurus Pusat JKSN, Siwalankerto, Surabaya. Kehadiran Menteri Desa PDT menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap peran strategis pesantren dan jaringan kyai dalam mendukung pembangunan desa, pengentasan ketertinggalan, serta penguatan ekonomi berbasis masyarakat.
Kegiatan ini diikuti oleh pengurus dan anggota JKSN bersama Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dari 18 provinsi di Indonesia. Perwakilan peserta hadir dari berbagai daerah, membawa semangat kolaborasi dan komitmen bersama untuk memperkuat jaringan nasional. Partisipasi lintas provinsi tersebut menunjukkan bahwa JKSN dan Pergunu memiliki basis yang luas serta soliditas organisasi yang terus berkembang dalam mengawal isu-isu pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Prof. Dr. Kyai Asep selaku Ketua Umum JKSN dan Pergunu yang memberikan sambutan sekaligus arahan strategis kepada seluruh peserta. Dalam pidatonya, beliau menegaskan peran historis pesantren dalam perjalanan bangsa. Ia menyampaikan, “Kalau dulu pesantren memperjuangkan kemerdekaan dan merdeka, maka dengan lahirnya JKSN dan diperkuat oleh Pergunu maka Indonesia yang maju, adil dan makmur harus terwujud.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perjuangan pesantren tidak berhenti pada masa kemerdekaan, tetapi berlanjut pada perjuangan membangun kualitas bangsa melalui pendidikan, moralitas, dan penguatan sumber daya manusia.
Dalam penyampaian materinya, Mendes PDT Yandri Susanto menekankan pentingnya peran kepemimpinan kyai dalam mendorong percepatan pembangunan nasional. Ia menyampaikan, “Saya sering sampaikan bapak ibu, kalau ada 10 Kyai Asep, insyaallah Indonesia lebih cepat majunya.” Pernyataan tersebut menggambarkan betapa besar pengaruh dan keteladanan seorang kyai dalam membentuk karakter masyarakat, membangun optimisme, serta menggerakkan partisipasi publik dalam pembangunan, khususnya di wilayah desa dan daerah tertinggal.
Lebih lanjut, Yandri Susanto menjelaskan bahwa pembangunan desa tidak hanya berkutat pada pembangunan fisik seperti infrastruktur jalan, jembatan, atau fasilitas umum, tetapi juga menyangkut pembangunan sumber daya manusia. Ia mendorong agar pesantren, guru, dan jaringan kyai mengambil peran aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan, literasi, keterampilan kewirausahaan, serta penguatan karakter generasi muda. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan elemen keagamaan menjadi kunci dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Rangkaian Silaturahmi Alim Ulama dan Rapat Kerja Nasional JKSN yang berlangsung selama tiga hari ini diharapkan menghasilkan rekomendasi dan program kerja yang aplikatif. Dengan memperkuat jejaring organisasi, meningkatkan kualitas SDM, serta membangun kolaborasi dengan pemerintah, JKSN optimistis dapat berperan aktif dalam menyukseskan agenda pembangunan nasional. Semangat kebersamaan yang terbangun di Surabaya ini menjadi fondasi kuat bagi langkah-langkah strategis JKSN ke depan dalam mewujudkan Indonesia yang maju, berdaya saing, serta berlandaskan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan.

0 Komentar